Laman

Rabu, 05 Maret 2008

Celana Melorot (Demokrasi?)

From: Rizania, Risna
> Sent: Wednesday, February 27, 2008 9:39 AM
> To: Indonesia JKT HRD
> Subject: FW: Celana Melorot (Demokrasi?)
>
> Berita menarik... J
>
>
>
> Ini berita dari Amerika Serikat, negara yang dikenal
> sangat liberal. Kota Alexandria dan Shreveport dua
> kota di negara bagian Louisiana , AS membuat
> peraturan
> baru: melarang remaja putra dan putri mengenakan
> celana melorot di bawah pinggang yang memperlihatkan
> (maaf) celana dalam mereka.
>
> Peraturan itu, tulis Kantor Berita AFP Prancis 29
> Agustus 2007, diterima secara bulat. Larangan ini
> lahir setelah warga memprotes gaya berpakaian para
> remaja, yang berjalan dengan celana melorot di bawah
> pinggang itu. Gaya tersebut, menurut Konselor Kota
> Alexandria, Louis Marshall, tidak sopan.
>
> Louis Marshall, yang hidup dalam tradisi demokrasi,
> beruntung. Pelarangan itu sama sekali tidak menuai
> protes. Tidak ada aktivis yang menyatakan peraturan
> tersebut melanggar hak asasi manusia,
> antipluralisme,
> dan konservatif.
>
> Bayangkan jika di Indonesia , negara yang baru saja
> menghirup udara demokrasi. Louis Marshall akan
> dikecam
> dan dianggap telah membunuh kebebasan individu untuk
> berkreasi. Keputusan pelarangan tersebut bahkan akan
> diejek sebagai 'campur tangan pemerintah terhadap
> hak
> pribadi warga negara'.
>
> Ini yang terjadi di Indonesia . Pada Desember 2004,
> seratus hari pemerintahannya, Presiden Susilo
> Bambang
> Yudhoyono menyampaikan kegusarannya atas tayangan
> televisi. Melalui Menko Kesra Alwi Shihab ketika
> itu,
> Presiden yang kuat memegang norma agama dan sosial
> itu
> meminta media televisi untuk tidak mempertontonkan
> pusar perempuan. "Itu sangat mengganggu," kata
> Presiden saat itu.
>
> Pernyataan SBY itu baru sebatas permintaan, belum
> menjadi keputusan. Namun, tidak terlalu lama
> berbagai
> reaksi dari kalangan aktivis perempuan bermunculan
> dalam diskusi-diskusi dan tulisan di media massa .
> Mereka antara lain menyatakan, SBY telah melanggar
> prinsip demokrasi, terhadap hak asasi, dan kebebasan
> individu berekspresi.
>
> Mereka menentang keras pernyataan SBY itu. Menurut
> mereka, apabila negara dibiarkan mengatur hak
> pribadi
> warga negara, di antaranya soal pusar tadi, maka
> demokrasi dan kebebasan individu untuk berkreasi,
> pun
> mati. Itu pulalah yang menjadi alasan mereka
> menentang
> Rancangan Undang-undang Antipornografi dan
> Pornoaksi.
> Apabila disahkan, maka RUAPP tersebut akan mengatur
> tubuh perempuan demi kepentingan politik
> konservatif.
>
> Alexandria dan Shreveport , dua kota di negara
> bagian
> Louisiana , AS, telah memberlakukan keputusan, yang
> melarang remaja putra dan putri mengenakan celana
> melorot. Keputusan itu disambut baik warga, yang
> sejak
> lahir telah menghirup udara demokrasi. Tidak ada
> yang
> protes dan menyebutnya sebagai antikebebasan
> berekspresi, antipluralis, konservatif, dan pertanda
> matinya demokrasi.
>
> Demokrasi, sistem yang memiliki berbagai kelemahan,
> sesungguhnya tidak mati hanya karena pelarangan
> celana
> yang melorot dan pelarangan memperlihatkan pusar.
> Pandangan yang berlebihan terhadap demokrasilah
> apalagi membenturkannya dengan nilai-nilai di
> masyarakat, nilai-nilai agama, dan menyebutnya
> sebagai
> konservatif yang memungkinkan sistem itu kehilangan
> esensinya.
>
> Di Alexandria dan Shreveport , remaja-remaja tidak
> lagi mengenakan celana melorot. Mereka tidak merasa
> menjadi konservatif apalagi antidemokrasi. Di
> Indonesia, para remaja bebas membiarkan (maaf)
> celana
> dalamnya menyembul. Inilah yang disebut para aktivis
> sebagai kebebasan berekspresi. Dan, para aktivis itu
> sangat takut demokrasi mati hanya karena remaja
> menutup pusarnya.
> (Asro Kamal Rokan )

Minggu, 02 Maret 2008

Pidato Bush

Ini aku dapat dari teman-teman kafisipolgama yang juga dapat dari rekan di tempo. Moga yang baca makin ngerti dengan kondisi bangsa kita ini:

Berikut bocoran pidato Bush sewaktu briefing di White
House sebelum berkunjung ke Indonesia 20 November ini.

Kepada yang terhormat Direktur CIA, FBI, Direktur Bank
Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil,
Freeport, Bankir2 Internasional, dan semua yang telah
membantu kami membiayai perang Iraq, Afghanistan,
serta menyebarluaskan kekuasaan imperium global,
Direktur media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah
membantu propaganda kita, kami ucapkan terima kasih.

Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada
hari ini saya akan melaporkan keadaan Indonesia, yang
dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya
di hadapan kita.

Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata
mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah
kiriman dari negeri kita, lihatlah ketika kita
jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka
seperti maung ompong ha ha ha ha (hadirin tertawa),
yang lebih lucu lagi kemarin presidennya sendiri yang
memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu... ha
haha. (hadirin tertawa).. kasihan-kasihan.

Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham
materialisme, budaya konsumtif, hedonisme,
individualisme, yang kita ajarkan itu lewat
iklan-iklan kita, tayangan-tanyangan televisi kita,
film-film kita, propaganda-propagan da kita, sudah
tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari
mereka, jangankan memikirkan negeri atau umatnya
lebih-lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan
kesenangan diri mereka sendiri, bayangkan saja Negara
semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi
dalam korupsi and dalam urusan berbelanja baju ke
Singapura, mengalahkan Jepang, Australia, dan China
sekalipun. ha ha ha (hadirin tertawa ).

Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena
mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan
kita pekerjakan di perusahaan-perusaha an minyak atau
tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang
besarnya sama dengan loper koran di negeri kita ha ha
ha. (hadirin tertawa ). Bayangkan orang-orang
terbaiknya hadirin.

Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan
pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah
orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk disuap,
untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta untuk
melakukan apa saja sesuai keinginan kita. Dasar mental
koruptor! ha ha ha ha (hadirin tertawa ).

Hutang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil
bisa mereka bayar, 22% APBN mereka habis untuk
membayar hutang kepada kita, sehingga mengurangi
anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan
pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak
penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak
mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita.
Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka
akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu.
Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti
yang selama ini kita harapkan.

Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai,
lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita
miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang
beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik
kita. Lebih dari itu mimuman-minuman, makanan-makanan,
buku-buku, walau banyak yang ngopi, komputer-komputer,
software-soffware mereka, walau banyak yang ngebajak,
bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah
produksi perusahaan2 kita.
ha ha ha (hadirin tertawa),

....Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus
tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya, 200 juta
lebih penduduk negeri itu merupakan konsumen bagi
produk-produk perusahaan kita.

Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari
segi ekonomi, militer, politik, budaya, teknologi, dan
lain-lain dan lain-lain

Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka
saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya
konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada
agen-agen CIA agar memecah belah, tebarkan kecurigaan
dan fitnah di antara mereka, biar mereka terus
berkelahi dan tidak punya waktu untuk melawan
Imperialisme kita, terus rekrut generasi muda
terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusaha an
kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang
menentang kita.

Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima
kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada
seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha
kita, perusahaan-perusaha an Multinasional, Televisi
dan Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara
Sekutu, para Economic Hit Man, Mafia Berkeley, yang
terhormat pejabat korup Indonesia. Dan lain-lain, dan
lain-lain.

Sekian dan terima kasih.