Laman

Kamis, 14 Februari 2008

PKS pluralis? (catatan Muskernas Bali)

Oleh : Budi Kurniawan
dosen fisip Unila
Perubahan atau pergeseran ideologi dalam diri sebuah partai politik adalah yang wajar. dan hal ini terjadi di PKS. Mengikuti jejakpartai seideologi refah di turki, PKS pun belajar dari kegagalan FIS di Aljazahir dan Hammas di Palestina.
Namun yang jadi masalah jika kita melihat PKS secara historis. Pada awal berdirinya PK (nama lama PKS) mengklaim dirinya adalah partai dakwah. suara yang besar bukanlah tujuan utama. Yang penting adalah adanya amal ma'ruf nahi munkar dalam setiap kebijakan di Parlemen dan pemerintah tentunya.
Namun sekarang PKS tampaknya mulai beralih dari orientasi dakwah ke orintasi kekuasaan murni. Banyak kasus yang bisa menjelaskan Tessis ini.
Pertama: PKS sangat mudah sekali berkoalisi dengan partai dari ideologi apapun termasuk yang mereka jelek-jelekan dalam kampanye 2004: masih ingat slogan membela wong licik bukan wong cilik. koalisi PDI-p dan PKS jelas suatu hal yang sangat hampir tidak mungkin diawal berdirinya. namun sekarang banyak Pilkada yang menmpatkan mereka berteman dekat.
Kedua, PKS dalam daftar calon legislatif mempunyai strategi mengangkat tokoh yang ditokohkan dan terkenal walaupun bukan kaderdi daerah mereka yang gak punya kader. Namun setalah si Calon menang ia akan segera di recall diganti dengan anggota DPRD baru yang benar kader-kader PKS namun tidak terkenal. Data ini dapat dilihat dari direcallnya anggoata dewan PKS di DPRD Way Kanan Lampung, ataupun DPRD Kabupaten Bangka.
Muskernas Bali kemaren yang menegaskan Pluralisme PKS sebenarnya bisa kita lebih pertanyakan? Pertanyaan pertama, apakah benar PKS meyakini Pancasila sebagai ideologi negara ditengah pengaruh ideologi Ikhwanul Muslimin yang menghendaki syariat dan negara Islam yang berujung pada terbentuknya khilafah Isalmiah.
Pertanyaan kedua, apakah ini hanya strategi PKS untuk memanfaatkan demokrasi yang kemudian justru membunuhnya ketika mereka berkuasa.
Pertanyaan ketiga, apakah kepedulian terhadap bangsa merupakan lips service semata untuk meraih kekuasaan, padahal yang sesungguhnya adalah menempatkan isu islam simbolik diatas bangunan bangsa itu sendiri.
Tessis saya, PKS hanya beralih dan bergeser ke arah pluralis untuk kekuasaan dan akhirnya larut dalam kekuasaan itu sendiri dan konsekunsinya meninggalkan ideologi dakwah sebagai ideologi dasar dan berdirinyanya, ditinggalkan kader yang puritan.Itu adalah pola sejarah yang pernah terjadi di refah, masyumi, PPP dan banyak partai Islamn atau di HMI sekarang. Bersiaplah dengan PKSdengan pola sejarag yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Sejarah akan membuktikan!!! wallahu'alam